Harm Reduction Project

          

Data menunjukan angka tertinggi penularan HIV-AIDS di Indonesia adalah akibat penggunaan jarum suntik tidak steril oleh pengguna narkotika suntik (Penasun) secara bergantian dengan teman pakainya dengan prevalensi penularan sebesar 61%.Program penanggulangan HIV-AIDS dikalangan penyalahguna narkoba suntik melalui Harm Reduction menjadi salah satu metode yang paling efektif dalam mengurangi tingginya prevalensiHIV-AIDS.

Program yang telah digulirkan sejak tahun 2004 ini berlokasi di 7 Kota-Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yaitu; Kota Bandung, Kab Bandung, Sumedang, Kota Cirebon, Kab Cirebon serta mulai tahun 2007 diperluas ke Kota Tasikmlaya dan Kab Tasikmalaya, termasuk pendampingan warga binaan di 3 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yaitu; Sukamiskin, Lapas Sumedang dan Lapas Tasikmalaya. Program ini mendapat dukungan teknis dan pendanaan dari HCPI-AusAID.

Tujuan program untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan dalam mengelola perilaku penggunaan napza sebagai upaya preventif penularan HIV/AIDS dikalangan Penasun dan keluarganya melalui integrasi layanan pengurangan dampak buruk terpadu dengan puskesmas sebagai mitra terdepan dalam pelayanan kesehatan penasun.
Dalam kurun waktu implementasi, program harm reduction telah menerapkan berbagai model strategi, pada tahap awal periode tahun 2004-2006, strategi program bertumpu pada model BCC (Komunikasi Perubahan Perilaku) serta peningkatan akses layanan melalui kegiatan penjangkauan, pendampingan serta rujukan ke Puskesmas.

Pada fase selanjutnya strategi program diarahkan untuk mendorong munculnya kebijakan penyediaan layanan di semua level atas dasar kebutuhan lapangan serta mobiliasasi sosial sebagai upaya perluasan respon terhadap pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS melalui partisipasi masyarakat.

Dampaknya, melalui sinergitas dan penguatan komunitas, jaringan LSM serta KPA lahirlah PERMENKOKESRA No. 2 Tahun 2007 tentang pengurangan dampak buruk terhadap penggunaan Napza, didukung oleh lahirnya berbagai PERDA yang telah diberlakukan untuk mendukung program ini. Selain itu, melalui pendekatan yang intensif munculah kepedulian dan partisipasimasyarakat luas terhadap program ini melalui pembentukan dan pengembangan Warga Peduli Aids (WPA) di level kelurahan dan desa.

 

Share

INFO LAYANAN